NGRAMBE-Nuansa kebersamaan dan syukur memenuhi Masjid Baitul Muttaqin, Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe, pada Kamis malam, 27 Maret 2025. Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, masyarakat menggelar tradisi Ambengan Kataman Qur’an, sebuah perayaan syukur setelah khataman Al-Qur’an yang disertai dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Acara ini berlangsung selepas shalat Isya’ dan tarawih, dilanjutkan dengan pembacaan juz terakhir Al-Qur’an secara bersama-sama. Setelah ayat terakhir dilantunkan, suasana haru dan khidmat menyelimuti jamaah, menandai selesainya rangkaian tadarus yang telah dijalani selama bulan suci. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa membaca dan memahami Al-Qur’an bukan sekadar ritual, melainkan bagian dari perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah.

Camat Ngrambe Kusnu Heri Purwanto, yang hadir dalam acara ini, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat kebersamaan masyarakat dalam merawat tradisi keagamaan. Didampingi oleh Kasi Kesos Kecamatan Ngrambe, Raden Wahyu Trijanto, serta perwakilan lintas sektor seperti Polsek Ngrambe dan Takmir Masjid Baitul Muttaqin, ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini memperkuat ikatan sosial dan menanamkan nilai-nilai religius yang mendalam.
“Ini bukan sekadar khataman, tetapi juga momentum mempererat tali silaturahmi. Budaya Ambengan yang diwarisi dari generasi ke generasi menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kebersamaan dan kepedulian,” ujar Kusnu Heri Purwanto dalam sambutannya.
Setelah doa bersama, masyarakat beralih ke sesi Ambengan, di mana buceng ayam—tumpeng khas dengan lauk ayam—dibagikan dan dinikmati bersama. Suasana keakraban semakin terasa ketika jamaah duduk melingkar, berbagi makanan dengan penuh rasa syukur.

Salah satu peserta, Safwan, menyampaikan pandangannya mengenai tradisi ini. “Kataman Qur’an ini bukan hanya soal menyelesaikan bacaan, tetapi juga mengajarkan kami arti berbagi dan bersyukur. Makan bersama setelahnya menjadi pengingat bahwa rezeki yang kita nikmati harus selalu disyukuri dan dibagi dengan sesama.”
Tradisi Ambengan Kataman Qur’an ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga membangun kebersamaan dalam masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan keikhlasan, kegiatan ini diharapkan terus lestari, menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk menjaga nilai-nilai keislaman yang penuh makna.